Mengapa Organisasi Perlu Merumuskan Misi?

  • I Gede Bagia Arta
  • 16/02/2022
  • Article

SADHANA - Setelah memahami visi, penting juga kiranya kita mampu merumuskan misi. Kapan saat pembahasan visi dan misi begitu intensif dilakukan? Ketika tiba musim penyusunan rencana strategis (renstra), pemenuhan akreditasi, dan perumusan rencana bisnis. Dan ada satu lagi, yang kita semua pasti sepakat, yaitu saat musim pilkada, di mana tim sukses dengan masif mengkomunikasikan visi dan misi kepada calon pemilih - di setiap sudut, masyarakat sangat “familiar” membahas visi dan misi, yang kemudian bukan hanya terkait pilkada, namun dalam konteks yang lebih luas.
 
Pada dasarnya, tidak hanya organisasi perlu misi, kita sebagai pribadi pun memerlukan misi. Misi atau “mission” sering juga disamakan maknanya dengan “purpose”, merupakan sebuah “statement” atas alasan keberadaan kita. Sederhananya, kalau kita ingin mendefiniskan misi, ajukan aja sebuah pertanyaan, misalnya, “apa alasan organisasi ini didirikan?”. Apapun jawabannya, itulah misi organisasi tersebut. Dalam pernyataan misi perusahaan, akan tercermin tentang siapa customernya, apa lingkup kegiatan bisnisnya, dan yang paling penting adalah “value” apa yang diberikan kepada pelanggan dan masyarakat. Dengan demikian, misi menjadi dasar bagi seorang marketer untuk mendefinisikan “customer value proposition”. Perencana perusahaan mengunakan misi untuk menyusun model bisnis. Bagi kalangan “frontliners”, misi dijadikan “roh” dan “jiwa” untuk melayani pelanggan. Bagi seorang praktisi SDM, misi perusahaan terutama sekali digunakan sebagai bahan komunikasi awal dalam rekrutmen dan penerimaan karyawan. Aktualisasi misi akan menggerakkan idealisme, dedikasi, dan totalitas peran setiap insan dalam organisasi. Begitu pentingnya pernyataan misi, setiap organisasi harus intensif dalam melakukan sosialisasi dan internalisasi misi kepada seluruh “stakeholders”.
 
Mengacu pada definisi dan kegunaan misi seperti di atas, maka kita bisa merumuskan misi terlebih dulu baru visi, bisa juga sebaliknya. Terkadang seseorang lebih mudah merumuskan misi terlebih dahulu baru kemudian visi. Kalau demikian, berarti misi itu bukan merupakan cara mencapai visi? Ya, cara mencapai visi disebut “strategi”.